Hadiri Malam Kebudayaan Pesantren, Gus Rommy Bacakan Sebuah Puisi

ROMAHURMUZIY.COM – Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy menghadiri acara Malam Kebudayaan Pesantren di Panggung Krapyak Yogyakarta. Acara yang merupakan bagian dari Road to Hari Santri ini menjadi malam yang spesial bagi Gus Rommy, beliau membacakan dua buah puisi tentang karakter santri dan perjuangannya.

Pembacaan tersebut dimaksudnya untuk mengapresiasi dan bentuk penghormatan kepada perjuangan kiai dan santri demi berdirinya bangsa ini.

“Perjuangan kiai dan santri untuk bangsa ini tak perlu lagi dipertanyakaan. Begitu juga nasionalismenya karena para kiai dan santri sudah mengikrarkan hubbul wathan minal iman (cinta negeri bagian dari iman) sejak dahulu kala,” ujar Gus Rommy, Kamis (11/10/2018).

Gus Rommy tidak hanya membacakan puisi sendiri, dalam acara tersebut Gus Rommy juga membaca puisi bersama tokoh lainnya. Seperti Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin dan Inaya Wahid serta Habiburrahman El Shirazy.

“Indonesia kini memiliki Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Ini merupakan pengakuan negara terhadap eksistensi dan peran santri bagi bangsa ini,” jelas Gus Rommy.

Selain itu, Gus Rommy juga menilai, malam Kebudayaan Pesantren ini menunjukkan, bahwa selama ini pesantren dan santri dekat dengan kesenian. Diantaranya adalah seni puisi, dimana banyak karya santri yang diakui oleh masyarakat.

“Pesantren merupakan model pendidikan Islam asli Indonesia. Di dalamnya ada budaya belajar dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, banyak kegiatan budaya dan seni yang dilakukan santri di pesantren,” terang putra dari almarhum K.H. Tolchah Mansoer ini.

Salah satu puisi yang dibacakan Gus Rommy yaitu puisi yang berisi tentang kehidupan para santri dan perjuangan mereka untuk negeri dengan judul Perjuangan.

Berikut isi puisi yang dibacakan Rommy:

Perjuangan

 

Sekumpulan anak muda dengan kopiah hitam dan sarung berlarian menuju panggilan adzan

Surau tua berada di ujung senja, gelegar suara toa mengisi seluruh ruang hampa

Matahari tenggelam, hari perlahan gelap membuka cakrawala bintang-bintang

Dari kejauhan terdengar kerumunan bacaan Al-Quran saling bersahutan

 

Mereka, para kiai dan santri adalah pondasi bagi berdirinya bangsa ini

Yang tidak akan bisa kami lupakan jerih payah perjuangan mereka

Demi persembahan terbaik untuk anak cucu nanti

 

Doa-doa dan perjuangan mewarnai tegaknya sang saka merah putih

Bumi nusantara yang subur dan berlimpah harus kita syukuri

Agar menjadi barokah dikemudian hari

Teringat olehku, fatwa K.H. Hasyim Asyari yang menyebut bahwa Hubbul wathan minal iman

Ya, mencintai negeri adalah sebagian dari iman

Sebab, negeri ini bukanlah hadiah yang di persembahkan Tuhan tanpa perjuangan.

Tanpa pengorbanan, negeri ini tak akan berdiri

Akan selalu kuingat, semua doa yang kalian panjatkan demi kami.

Akan selalu kuingat, mujahadah yang kalian lakukan agar damai bangsa ini.

Akan selalu kuingat, semua yang kalian korbankan demi kebahagiaan kami.

Terimakasih kiai dan santri, yang berjuang agar tegak berdiri, surga bernama Indonesia ini. (Ch)

2018-10-11T14:31:39+00:00