Cerita Rommy tentang Sejarah Lahirnya Aturan Islam di Indonesia

ROMAHURMUZIY.COM – Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy menegaskan harus ada kelompok yang memperjuangkan prinsip-prinsip Islam dalam aturan di bawah Undang-undang Dasar di Negara Indonesia.

“Siapakah yang merumuskan? Tentu saja Anggota Legislatif dari partai politik,” jelas pria yang akrab disapa Gus Rommy ini saat menghadiri Sarasehan Nasional Guru Pendidikan Agama Islam di Hotel Santika, Bekasi Rabu, (21/11/2018).

Dikatakan Gus Rommy, disitulah pentingnya peran partai politik berbasis Islam dalam rangka memasukan prinsip-prinsip Islam ke dalam berbagai bentuk aturan perundang-undangan sebagaimana amanah para ulama pendiri bangsa.

“Pada saat perumusan Pancasila tanggal 18 Agustus 1945 atau satu hari setelah proklamasi, karena adanya protes dari masyarakat Indonesia bagian timur kepada Bung Hatta saat itu, kemudian Sila Pertama yang awalnya berbunyi ; Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, dirubah menjadi; Ketuhanan Yang Maha Esa,” tuturnya.

Diceritakan Gus Rommy Perubahan ini disepakati atas masukan para ulama demi bersatunya NKRI, namun para ulama perumus Pancasila tersebut diantaranya KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadi Kusumo, Mr. Kasman Singodimejo dan Teuku Muhmmad Hasan meminta jaminan kepada Bung Hatta.

“Mereka meminta supaya Islam tetap bisa dilegalisasikan dan dikompilasikan hukumnya ke dalam aturan-aturan,” paparnya.⠀

Akhirnya, lanjutnya, aturan yang berisi hokum islam itu disetujui asal di bawah Undang-undang Dasar dan tidak di dalam Undang-undang Dasar.  Inilah yang kemudian dituliskan oleh Bung Hatta dalam bukunya berjudul “Catatan Seputar Proklamasi” bahwa hukum-hukum Islam tetap bisa dilaksanakan dengan aturan-aturan dibawah UUD.

“Itulah kenapa kemudian harus ada kelompok yang merumuskan prinsip-prinsip hukum Islam dalam aturan dibawah Undang-undang Dasar,” pungkasnya.⠀⠀

2018-11-22T15:46:02+00:00