Tanggal : 26-03-2017

Romahurmuziy : Peluang Indonesia dibalik Kunjungan Raja Salman

Romahurmuziy.com - Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud ke Indonesia menjadi suatu momentum bermakna bagi hubungan kedua negara. Rencana kunjungan tersebut memperoleh pemberitaan luas di tanah air. Bukan saja karena  merupakan peristiwa langka sebagai kunjungan kali ke-2 setelah Raja Faisal pada tahun 1970, tapi juga besarnya rombongan dan lamanya kunjungan itu. Dikabarkan bahwa Raja Salman akan disertai sekitar 1.500 orang, termasuk 25 pangeran dan 10 menteri. Hal ini membuktikan bahwa Arab Saudi memandang Indonesia sebagai negara yang sangat strategis dalam berbagai bidang.

Berita tersebut tentu menggembirakan. Indonesia perlu menyambut kedatangan mereka. Dampak dari kunjungan tersebut, sudah pasti akan membawa investasi yang besar seperti saat kunjungan Raja Faisal, yaitu dibangunnya kilang Cilacap dengan spec yang dikhususkan untuk minyak bumi berat produksi Aramco.

Selama ini, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi berjalan baik-baik saja. Hubungan itu terutama diikat faktor historis dan keislaman. Mayoritas penduduk Indonesia ialah muslim, sama halnya dengan Arab Saudi yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Lebih dari hanya sekedar ikatan agama, kedua negara ini sama-sama memiliki kepentingan, baik dalam isu soal perlindungan TKI, kuota haji, ekonomi dan investasi dan seterusnya.

Ada beberapa faktor lain yang mendorong penguatan peningkatan kerjasama antara Arab Saudi dengan Indonesia

Pertama, bertemunya dua kekuatan Islam yg paling berpengaruh namun diametral baik dalam segi ritual, budaya, dan corak beragama. Seperti paham keagamaan konservatif yang dimiliki Arab Saudi berbanding terbalik dengan Indonesia yang memiliki paham keagamaan moderat dan adaptif. Arab Saudi sebagai pelayan dua tanah suci (Makah dan Madinah) dan Indonesia sebagai pengirim jamaah haji dan umrah terbesar dengan memberangkatkan sekitar 200rb jamaah haji dan 1,5 juta jamaah umrah setiap tahunnya. Dalam hal sistem ketatanegaraan yang menjadi perhatian seluruh dunia, Arab Saudi merupakan negara monarki  terbesar dan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Islam.

Kedua, dalam hal ekonomi, sebagai produsen dan eksportir minyak terbesar, Arab Saudi selalu ingin memiliki ikatan dengan Indonesia yang merupakan negara importir minyak. Arab Saudi adalah negara penampung TKI terbesar dan RI sebagai pengirim TKI terbesar di dunia Islam. Berdasarkan data terakhir Bank Indonesia (BI)  tahun 2015,  Arab Saudi adalah negara yang paling banyak menampung TKI dengan jumlah 1,01 juta orang. Berbeda jauh dengan negara timur tengah lainnya, seperti Uni Emirat Arab sebesar 114.000 orang, Yordania 48.000 orang, Oman 33.000 orang dan Qatar 28.000 orang.

Kuatnya hubungan di atas, belum tentu melahirkan kerja sama produktif yang bermanfaat luas bagi kedua pihak. Indonesia hingga sekarang menekankan hubungan produktifnya dengan lingkar ASEAN dan Pasifik. Tiongkok menjadi kiblat baru kerja sama Indonesia. Sementara itu, negara-negara Timteng juga mengarahkan kerja sama strategis mereka dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Dengan kata lain, hubung­an Indonesia-Timteng sangatlah miskin produktivitas kendati telah berlangsung lama, penuh semangat, dan penuh bumbu basa-basi persaudaraan. (baca Ibnu Burdah: Penguatan Hubungan Indonesia-Timur Tengah).

Oleh karena itu, kunjungan Raja Salman beserta rombongan besarnya harus dijadikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kerjasama dalam berbagai sektor, seperti peningkatan perdagangan ekspor-impor kedua negara khusunya dalam perminyakan yang saling menguntungkan. Neraca non migas Arab Saudi-Indonesia selama ini defisit di sisi Indonesia. Dalam hal ini Indonesia perlu lebih agresif menjaring potensi bisnis dari Arab Saudi.

Indonesia juga harus menekankan pentingnya perlindungan bagi TKI dalam bentuk berlakunya UU di Arab Saudi sehingga persoalan hukum TKI tidak kembali membuat repot kedua negara. Mengenai persoalan haji, pentingnya penambahan kuota dan pelibatan Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji. Arab Saudi harus memahami kondisi jamaah Indonesia yang harus mengantri sampai 10 tahun untuk bisa berangkat haji. Artinya, kebijakan Arab Saudi untuk penambahan kouta haji merupakan hak mutlak bagi Indonesia.

Adapun posisi PPP sebagai Partai Islam di Indonesia menanggapi kunjungan besar ini memiliki tiga harapan.

Pertama, menginginkan kompatibilitas Islam dan demokrasi yg berjalan dengan baik di Indonesia dapat diadaptasi oleh Arab Saudi sehingga menjadi negara yang semakin terbuka.

Kedua, hubungan ekonomi, agama, dan budaya semakin meningkat dan seimbang sehingga saling menguntungkan kedua negara.

Ketiga, kunjungan diikuti dengan pengkongkritan tindak lanjut di tingkat menteri dan pelaku sektor-sektor ekonomi, agama, dan budaya.

 

(M. Romahurmuziy, Ketua Umum PPP, Anggota DPR RI Komisi XI)

  • Petigallery
  • Website Resmi PPP

© 2015 www.romahurmuziy.com. All Rights Reserved.