Tanggal : 26-03-2017

Dahsyatnya Perpecahan Akibat Berita Hoax

 

Prihatin bahwa fakta, isu teori konspirasi dan fitnah pada saat ini di media sosial bercampur dalam berbagai bentuk yang tidak bisa dibedakan oleh orang awam (M. Romahurmuziy, Tweet 27 Desember 2016)

Maraknya berita hoax (bohong) yang akhir-akhir ini melanda dunia media sosial (medsos) kita bukanlah hal baru. Dalam catatan perjalanan sejarah pun banyak diisi oleh cerita-cerita yang terbukti hoax di kemudian hari. Mulai dari berita hoax serius yang mempertaruhkan dan bahkan mengorbankan ribuan nyawa hingga hoax sepele yang sekedar menggelikan para pembaca atau pendengar sebuah cerita.

Dalam Islam, berita hoax bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Suasana peperangan yang tidak pasti sering menjadikan berita-berita beterbangan lebih cepat nyaring dari denting pedang dan lebih cepat dari anak panah melesat meninggalkan busurnya.

Seperti sebuah riwayat yang menceritakan tentang siti  Aisyah r.a, istri Nabi Muhammad yang difitnah selingkuh dengan sahabat ketika perjalanan pulang seusai perang. Waktu itu, siti Aisyah r.a, tertinggal dari rombongannya karena sibuk mencari kalungnya yang jatuh di sekitar tenda. Untunglah ada sahabat yang bernama Shafwan bin Mu athal bertugas dibarisan belakang rombongan perang kaum muslimin yang menemukannya sendirian. Shofwan memberi tunggangan kepada siti Aisyah dan ia sendiri berjalan kaki sambil menuntunnya.

Keduanya berhasil  menyusul rombongan, dan ketika orang-orang melihat keduanya, muncullah desas desus terjadi. Berita fitnah bahwa Aisyah selingkuh dengan Shafwan disebarkan oleh kaum munafikin bersama tokohnya yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Bahkan kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Nabi Muhammad. Sikap Nabi Muhammad pun berubah kepada siti  Aisyah karena cemburu serta diselimuti rasa kebimbangan akan kabar yang tersebar. Sampai-sampai siti Aisyah menggambarkan sikap suaminya tersebut dalam ungkapannya  Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi SAW seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,Bagaimana keadaanmu, kemudian pergi, kata Siti Aisyah yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.

Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Dan selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi Muhammad SAW yaitu Surat An-Nur ayat 11-26 yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Ketika zaman Khulafaurrashidin, berita hoax pun menyebabkan perpecahan dikalangan kaum muslimin. Tatkala kepemimpinan khalifah Usman bin Affan, ada salah seorang sahabat tega membunuhnya hanya karena termakan kabar fitnah yang menyatakan bahwa Khalifah Usman membuat surat untuk membunuh sebuah rombongan dari Mesir yang mengadu kepada beliau. Padahal surat tersebut tidak pernah beliau buat apalagi sampai berniat menyuruh menghabisi rombongan tersebut.

Begitu juga keitka khalifah Ali bin Abu Thalib yang dibunuh oleh seorang sahabat yang terkena doktirn berita hoax bahwa sayyidina Ali sebagai khalifah tidak bisa menegakkan hukum Allah . Sahabat tersebut adalah Abdullah bin Muljam yang terkenal alim dalam beribadah. Akibat kabar tersebut, Abdurrahman bin Muljam membenci setengah mati kepada sayyidina Ali dan berani membunuhnya karena baginya membunuh Ali merupakan jalan jihad untuk menegakkan hukum Allah. Bisa kita bayangkan, alangkah mudahnya membuat kerusakan (ke-fasadan) dengan pembenaran menggunakan dalil Al-Quran disertai semangat jihad yang salah akibat berita hoax atau fitnah.

Dari kisah-kisah yang telah dipaparkan diatas, betapa sangat dahsyatnya perpecahan diantara kaum mulimin  yang diakibatkan karena berita hoax yang dipercayai oleh sebagian orang. Oleh karena itu, kita sekarang ini hidup di zaman teknologi tinggi dan di tengah media sosial dengan berita yang setiap detik saling bermunculan. Kita harus bijak dalam menanggapi kabar yang belum tentu benar adanya. Paling tidak, apapun kabar yang kita peroleh hendaknya kita tabayyun (Konfirmasi) sehingga kebenaran berita tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Apabila kita tidak mampu untuk tabayyun karena jarak dan mungkin tidak mengenal terhadap kejadian yang diberitakan, maka dengan tidak menyebarkan berita tersebut sikap kita sudah merupakan tabayyun itu sendiri. 

 

  • Petigallery
  • Website Resmi PPP

© 2015 www.romahurmuziy.com. All Rights Reserved.